Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS, Abdul Hadi, menyampaikan keprihatinannya atas meninggalnya Juliana Marins, warga negara Brasil, akibat kecelakaan di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
Evakuasi Juliana yang memakan waktu tiga hari sejak ia pertama kali meminta pertolongan menjadi sorotan.
Lambatnya Evakuasi Juliana Marins di Gunung Rinjani
Abdul Hadi mempertanyakan lambannya proses evakuasi Juliana. Ia menekankan pentingnya pembelajaran dari peristiwa ini.
Meskipun tim SAR menghadapi medan yang sulit, termasuk jurang sedalam 600 meter dan kabut tebal, lambatnya evakuasi tetap menjadi perhatian.
Evaluasi dan Peningkatan Sistem Pencarian dan Pertolongan
Abdul Hadi mengapresiasi dedikasi tim SAR, namun mendesak dilakukannya evaluasi mendalam terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP).
Ia menyarankan peningkatan latihan rutin dan keterlibatan komunitas lokal untuk respons yang lebih cepat dan efektif.
Perlu adanya pembaruan SOP evakuasi di daerah pegunungan dan taman nasional.
Teknologi dan Koordinasi yang Lebih Baik
Abdul Hadi mendorong pemerintah untuk meningkatkan kapasitas dan teknologi SAR, termasuk pengadaan drone.
Ia juga menyarankan agar pendaki, khususnya wisatawan asing, diwajibkan membawa pelacak GPS atau emergency beacon.
Pembentukan pusat komando terpadu untuk koordinasi antarinstansi, seperti Basarnas, taman nasional, TNI, Polri, BPBD, dan komunitas lokal, juga dianggap penting.
Sistem berbasis data real-time akan meningkatkan efektivitas koordinasi.
Penemuan jenazah Juliana Marins pada Selasa (24/6) di kedalaman sekitar 600 meter menandai berakhirnya operasi pencarian dan pertolongan.
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, menyatakan bahwa setelah pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan pada korban.
Kejadian ini diharapkan menjadi momentum untuk perbaikan menyeluruh sistem evakuasi di Indonesia, guna mencegah tragedi serupa di masa depan. Peningkatan teknologi, koordinasi, dan pelatihan merupakan kunci utama dalam meningkatkan keselamatan para pendaki.
