Kehebohan tengah melanda media sosial TikTok menyusul beredarnya sebuah video yang memperlihatkan sekelompok anak-anak di Jakarta tengah berada di dalam sebuah kosan dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Video tersebut menampilkan empat anak perempuan yang diduga sedang mengonsumsi minuman keras. Kondisi kosan yang berantakan semakin menambah kekhawatiran publik terhadap perilaku anak-anak tersebut.
Anak-Anak di Kosan Diduga Konsumsi Miras
Video yang diunggah oleh akun @rrnfgt ini berawal dari keluhan pemilik kos atas suara bising yang ditimbulkan oleh anak-anak tersebut.
Saat memeriksa sumber suara, pemilik kos mendapati empat anak perempuan berada di dalam kosan dengan sejumlah botol minuman keras berserakan. Kondisi ini membuat pemilik kos merasa geram.
Pemilik akun @rrnfgt mengungkapkan rasa kesalnya karena anak-anak tersebut juga dinilai berperilaku tidak sopan dan tidak mau membersihkan kosan setelah ditegur.
Mereka bahkan menolak untuk membuka pintu dan keluar dari kosan, meski sudah dihampiri oleh pemilik kos.
Tanggapan Pemilik Kos dan Keterbatasannya
Pemilik akun @rrnfgt juga menyebutkan bahwa ibu pemilik kos, yang dikenal ramah, kesulitan untuk menegur anak-anak tersebut.
Anak-anak itu dinilai memiliki sikap yang menantang dan tidak mengindahkan teguran. Hal ini menjadi kendala bagi pemilik kos untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Ketidakberdayaan pemilik kos dalam mengatasi situasi ini semakin memperkuat keprihatinan akan kurangnya pengawasan terhadap anak-anak tersebut.
Kejadian ini pun memunculkan pertanyaan akan peran orang tua dan lingkungan dalam membimbing anak-anak agar berperilaku baik dan menghindari hal-hal negatif.
Reaksi Warganet dan Sorotan Permasalahan
Video viral ini menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan perilaku anak-anak di bawah umur tersebut.
Beberapa warganet juga mempertanyakan peran orang tua dalam mengawasi dan membimbing anak-anaknya.
Selain itu, merek minuman keras yang diduga dikonsumsi anak-anak tersebut turut menjadi sorotan.
Komentar-komentar warganet beragam, mulai dari yang mengecam hingga yang prihatin, disertai saran untuk melaporkan kejadian ini ke dinas sosial agar anak-anak tersebut mendapatkan pembinaan yang tepat.
Ada pula komentar yang membandingkan perilaku anak-anak tersebut dengan pengalaman masa kecil mereka sendiri, yang menunjukkan perbedaan perilaku yang signifikan.
Peristiwa ini menjadi refleksi penting akan pengawasan terhadap anak-anak dan ketersediaan layanan pembinaan bagi anak-anak bermasalah.
Perlu adanya sinergi antara orang tua, lingkungan sekitar, dan pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Semoga kasus ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak dan memberikan bimbingan yang tepat.
