Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran telah berhasil dan menghancurkan target. Pentagon menyatakan masih membutuhkan waktu untuk menilai dampak penuh serangan tersebut, meski kerusakan yang terjadi di semua lokasi tampaknya sangat parah. Israel menyatakan telah berkoordinasi penuh dengan AS dalam perencanaan serangan. Namun, pejabat Iran membantah klaim kerusakan besar-besaran, meskipun mengakui adanya serangan terhadap fasilitas nuklir mereka. Peristiwa ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sudah berlangsung lama antara Iran dan Israel.
Serangan tersebut merupakan babak baru yang menegangkan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Ketegangan yang sudah tinggi antara berbagai pihak kini mencapai puncaknya, menimbulkan pertanyaan besar mengenai dampak jangka panjang dan kemungkinan respons dari Iran. Berikut detail lebih lanjut mengenai serangan tersebut, dampaknya, serta potensi respons dari Iran dan reaksi internasional.
Serangan Udara AS: Strategi dan Senjata yang Digunakan
Operasi Midnight Hammer melibatkan 125 pesawat militer AS, termasuk tujuh pesawat pengebom siluman B-2. Tiga fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran: Fordo, Natanz, dan Isfahan.
Pesawat pengebom berangkat dari AS selama 18 jam perjalanan. Beberapa pesawat dikirim ke Pasifik sebagai manuver pengalih perhatian.
Tujuh pesawat B-2, kelompok penyerang utama, menuju Iran. Lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk diluncurkan dari kapal selam AS ke sasaran di Isfahan sebelum pesawat B-2 memasuki wilayah udara Iran.
AS menggunakan berbagai taktik penipuan, termasuk pesawat tempur sebagai pengalih perhatian, untuk membersihkan jalur penerbangan B-2 dan mendeteksi pesawat musuh serta rudal permukaan-ke-udara.
Pesawat B-2 menjatuhkan 14 bom Massive Ordnance Penetrators (MOP) GBU-57, atau bom “penghancur bunker”, di fasilitas Fordo. Total 14 MOP dijatuhkan di dua area target. Pesawat-pesawat B-2 juga membawa 75 senjata berpemandu presisi lainnya.
Serangan terhadap tiga target infrastruktur nuklir Iran terjadi antara pukul 05.40 WIB dan 06.05 WIB. Setelah menjatuhkan bom, pesawat B-2 kembali ke AS tanpa menghadapi perlawanan udara dari Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan operasi tersebut tidak menargetkan pasukan atau warga sipil Iran, dan bukan bertujuan untuk perubahan rezim.
Dampak Serangan dan Analisis Citra Satelit
Penilaian awal menunjukkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah di ketiga lokasi. Namun, dibutuhkan waktu untuk penilaian yang lebih lengkap.
Citra satelit menunjukkan enam kawah baru di fasilitas Fordo, bersamaan dengan debu dan puing-puing. Enam kawah tersebut diduga sebagai titik masuk amunisi AS.
Stu Ray, analis citra senior di McKenzie Intelligence Services, menjelaskan bahwa efek ledakan besar tidak terlihat di titik masuk karena bom dirancang untuk meledak di dalam fasilitas. Warna abu-abu di tanah menandakan puing-puing beton akibat ledakan.
Pintu masuk terowongan tampaknya telah ditutup, mungkin sebagai upaya Iran untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut. Organisasi Energi Atom Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Arab Saudi dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak ada peningkatan tingkat radiasi setelah serangan. Iran telah mengevakuasi ketiga lokasi sebelum serangan, sehingga meminimalkan dampak.
Respons Iran dan Reaksi Internasional
Beberapa jam setelah serangan, Iran meluncurkan rudal yang menghantam sebagian Tel Aviv dan Haifa, melukai sedikitnya 86 orang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan AS harus bertanggung jawab atas agresi mereka. Iran memiliki beberapa pilihan respons, termasuk tidak melakukan apa pun, membalas secara cepat dan keras, atau membalas di waktu yang dipilih sendiri.
Trump mengonfirmasi serangan melalui Truth Social dan kemudian menyampaikan pidato televisi. Ia mengancam serangan yang lebih besar jika Iran tidak mencari solusi diplomatik.
Dukungan untuk Trump beragam. Beberapa Republikan mendukung, sementara yang lain, termasuk Marjorie Taylor Greene dan Thomas Massie, mengkritik tindakan tersebut. Perdebatan mengenai konstitusionalitas serangan juga muncul.
Demokrat mengkritik Trump karena memulai perang baru tanpa persetujuan Kongres. Negara-negara lain, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan PBB, menyerukan de-eskalasi dan kembali ke perundingan. Arab Saudi dan Oman juga mengekspresikan keprihatinan.
India menyerukan dialog dan diplomasi, sementara Rusia mengecam tindakan Trump. Konflik ini bermula dari serangan mendadak Israel terhadap target Iran pada 13 Juni, yang dibalas Iran dengan serangan roket dan drone. Perundingan nuklir AS-Iran sedang berlangsung saat serangan dilakukan.
Peristiwa ini memperlihatkan eskalasi konflik yang mengkhawatirkan, dengan potensi konsekuensi yang luas bagi stabilitas regional dan global. Peran diplomasi dan upaya de-eskalasi sangat krusial untuk mencegah konflik lebih lanjut dan mencari solusi damai.





