Misteri Transkrip Jokowi: Ahli Forensik Temukan Kejanggalan?

Misteri Transkrip Jokowi: Ahli Forensik Temukan Kejanggalan?
Sumber: Suara.com

Ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar kembali menyoroti klaim ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Ia mengungkapkan temuan terbaru yang menurutnya semakin memperkuat dugaan tersebut. Analisis Rismon ini didasarkan pada transkrip nilai dan akta kelahiran yang diklaim milik Jokowi, dan dibagikan melalui media sosial X pada akhir Juni 2025.

Kejanggalan Transkrip Nilai Jokowi

Rismon mempublikasikan tangkapan layar transkrip nilai yang diklaim milik Jokowi. Ia menemukan beberapa kejanggalan yang menurutnya tidak lazim untuk seorang mahasiswa yang lulus sarjana. Nilai Matematika II dan Fisika tercatat sebagai D. Lebih mengejutkan lagi, transkrip tersebut tidak mencantumkan nilai skripsi.

Kejanggalan lainnya terletak pada status tingkat studi Jokowi yang terdaftar sebagai Sarjana Muda (SM) di awal perkuliahan. Rismon mempertanyakan bagaimana mungkin Jokowi bisa mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan hanya dalam waktu lima tahun dengan kondisi tersebut.

Analisis Rismon ini menambah bobot argumennya tentang kasus ijazah palsu yang telah lama ia soroti.

Pertanyaan Mengenai Akta Kelahiran

Sehari sebelum unggahan transkrip nilai, Rismon juga mempertanyakan keabsahan akta kelahiran Jokowi. Ia menemukan foto akta kelahiran tersebut dari media online.

Rismon menyoroti tanggal penerbitan akta kelahiran Jokowi yang tertera tahun 1988, saat Jokowi telah berusia 27 tahun. Menurutnya, hal tersebut tidak lazim.

Ia mempertanyakan, apakah wajar seseorang yang lahir tahun 1961 baru memiliki akta kelahiran pada usia 27 tahun?

Respons Publik dan Klaim Metodologi Rismon

Unggahan Rismon di media sosial memicu beragam reaksi dari publik. Beberapa netizen berpendapat bahwa keterlambatan pembuatan akta kelahiran mungkin umum terjadi pada masa tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Rismon Sianipar mengungkapkan keraguannya terhadap ijazah Sarjana Kehutanan Jokowi dari UGM yang dikeluarkan tahun 1985.

Rismon selalu menegaskan bahwa seluruh analisisnya berbasis metode ilmiah yang teruji dan terpercaya.

Ia secara konsisten mengungkapkan temuan-temuannya, memicu perdebatan panjang di tengah masyarakat. Perdebatan ini juga menyoroti pentingnya transparansi dan verifikasi informasi publik.

Kasus ini menunjukkan kompleksitas dalam menangani tuduhan publik terhadap keaslian dokumen penting seseorang publik figur, dan perlu dihadapi dengan bukti yang kuat dan proses verifikasi yang transparan.

Pernyataan Rismon tentunya memicu perbincangan luas di masyarakat dan menunjukkan pentingnya peran ahli forensik digital dalam menguak kebenaran di era digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *