Jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang meninggal dunia setelah jatuh di Gunung Rinjani, Lombok, akhirnya akan dipulangkan ke tanah airnya. Proses kepulangan ini menandai berakhirnya proses evakuasi dan identifikasi yang cukup panjang dan kompleks, mengingat medan yang sulit di Gunung Rinjani.
Setelah ditemukan pada 23 Juni 2025, jenazah Juliana dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) di Denpasar Selatan untuk diautopsi. Hasil autopsi memastikan penyebab kematian akibat benturan keras saat jatuh, bukan hipotermia seperti dugaan awal.
Pemulangan Jenazah Juliana Marins ke Brasil
Hari Senin, 30 Juni 2025, menjadi hari kepulangan jenazah Juliana Marins ke Brasil. Proses keberangkatan dari RSBM menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar telah direncanakan dengan matang.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Aria Sandy, memastikan seluruh rute pemulangan telah disetujui dan siap dilaksanakan. Proses pemulangan melibatkan maskapai penerbangan Emirates.
Rute dan Jadwal Penerbangan Jenazah
Penerbangan jenazah Juliana dijadwalkan pada pukul 00.35 WITA dari Denpasar menuju Dubai dengan nomor penerbangan Emirates EK 0399.
Diperkirakan, jenazah tiba di Dubai pada pukul 05.35 waktu setempat, tanggal 1 Juli 2025. Dari Dubai, jenazah akan diterbangkan kembali menuju Rio de Janeiro.
Penerbangan lanjutan dari Dubai menuju Rio de Janeiro dijadwalkan pada tanggal 2 Juli 2025 pukul 08.05, dengan perkiraan waktu tiba pukul 15.50 waktu setempat.
Kronologi Kejadian dan Proses Evakuasi
Juliana Marins mengalami kecelakaan fatal saat mendaki Gunung Rinjani bersama rombongannya pada Sabtu, 21 Juni 2025.
Ia ditemukan meninggal dunia di kedalaman sekitar 600 meter dari tempat kejadian. Proses evakuasi jenazah cukup sulit karena medan yang terjal dan menantang.
Tim SAR gabungan berhasil mencapai lokasi jatuhnya korban pada Selasa, 24 Juni 2025, dan mengevakuasi jenazah pada Rabu, 25 Juni 2025.
Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, dr. Ida Bagus Putu Alit, menjelaskan bahwa Juliana meninggal sekitar 20 menit setelah jatuh akibat benturan keras. Hipotesis awal mengenai hipotermia sebagai penyebab kematian terbukti salah.
Proses evakuasi yang membutuhkan waktu beberapa hari ini menunjukkan kesulitan yang dihadapi tim penyelamat dalam menghadapi kondisi medan Gunung Rinjani.
Kejadian ini menjadi sorotan internasional, khususnya setelah munculnya rating satu bintang untuk Gunung Rinjani di Google Maps dari netizen Brasil yang berduka cita.
Semoga keluarga Juliana Marins dapat segera menerima jenazahnya dan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi duka ini. Semoga juga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki untuk selalu mengutamakan keselamatan dan mempersiapkan diri dengan matang sebelum melakukan pendakian di medan yang menantang.





