Lebih dari seribu gempa bumi mengguncang pulau Akuseki, Jepang, dalam dua pekan terakhir. Pemerintah Jepang merespon dengan mendesak evakuasi 89 penduduk pulau terpencil tersebut.
Gempa-gempa tersebut, yang terbesar mencapai magnitudo 5,5, telah menyebabkan gangguan tidur dan kekhawatiran di kalangan warga. Meskipun belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa, langkah evakuasi dianggap perlu untuk mengantisipasi potensi bahaya.
Evakuasi Warga Akuseki
Pemerintah Jepang telah memerintahkan evakuasi 89 penduduk Akuseki ke taman bermain sekolah setempat. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan menyusul rangkaian gempa yang terus berlanjut.
Akuseki, bagian dari gugusan kepulauan Tokara di selatan Kyushu, merupakan salah satu dari tujuh pulau berpenghuni di gugusan tersebut. Total penduduk di tujuh pulau ini berjumlah sekitar 700 jiwa.
Aktivitas Seismik yang Intensif
Aktivitas seismik di sekitar Kepulauan Tokara dimulai sejak 21 Juni 2025. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat lebih dari 1.000 gempa bumi dalam kurun waktu dua minggu.
Gempa terbesar yang tercatat bermagnitudo 5,5. Meskipun sebagian besar gempa bermagnitudo kecil, frekuensi kejadian yang tinggi menimbulkan kekhawatiran akan potensi gempa yang lebih besar.
Direktur Divisi Pengamatan Gempa dan Tsunami JMA, Ayataka Ebita, menyatakan aktivitas seismik masih berlangsung aktif. Ia belum dapat memprediksi kapan aktivitas ini akan berhenti.
Dampak Gempa dan Kekhawatiran Warga
Warga Akuseki mengungkapkan kesulitan tidur akibat gempa yang terus beruntun. “Rasanya seperti bumi terus berguncang,” ujar seorang warga kepada stasiun televisi lokal.
Kekhawatiran juga muncul mengenai keselamatan anak-anak. Seorang warga menyatakan ketidakpastian kapan rangkaian gempa akan berakhir dan sedang mempertimbangkan untuk mengevakuasi anak-anaknya.
Insiden ini mengingatkan pada kejadian serupa pada September 2023, di mana JMA mencatat 346 gempa bumi dalam waktu singkat di wilayah yang sama. Kondisi ini menekankan tingginya aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Jepang, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang dikenal sebagai negara dengan aktivitas seismik tinggi. Negara ini mengalami sekitar 1.500 gempa bumi setiap tahunnya.
Meskipun sebagian besar gempa berukuran kecil, dampaknya bisa signifikan tergantung lokasi dan kedalaman pusat gempa. Hal ini menjadi alasan pentingnya kesiapsiagaan dan tindakan evakuasi dini.
Kejadian di Akuseki menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, khususnya di wilayah rawan gempa. Penting bagi masyarakat untuk selalu mengikuti arahan dari otoritas setempat dan mempersiapkan diri menghadapi potensi gempa bumi di masa mendatang.
Kejadian di Akuseki menjadi contoh nyata perlunya peningkatan kesiapsiagaan bencana di daerah rawan gempa. Pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran berharga untuk meningkatkan sistem peringatan dini dan strategi evakuasi di masa mendatang.





