Aplikasi dan game penghasil uang tengah populer, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang tergiur janji penghasilan cepat tanpa bekerja konvensional.
Klaim mendapatkan jutaan rupiah hanya dengan bermain game atau menonton iklan bertebaran di media sosial dan iklan daring. Namun, seberapa dapat diandalkan klaim tersebut?
Di balik tampilan menarik dan janji manis, terdapat realita yang mengecewakan. Banyak aplikasi yang terbukti hanya ilusi belaka.
Berbagai laporan dan ulasan pengguna menunjukkan banyak aplikasi bertujuan memanipulasi pengguna demi keuntungan pengembang. Pengguna justru dirugikan.
Modus Operandi Aplikasi dan Game Penghasil Uang
Sebagian besar aplikasi dan game penghasil uang beroperasi melalui dua model utama. Masing-masing model memiliki kekurangan dan risiko tersendiri bagi pengguna.
Model berbasis iklan menawarkan imbalan kecil—sekitar 0,01 USD—untuk setiap sesi menonton iklan. Menarik dana seringkali membutuhkan pengumpulan saldo minimal yang sangat besar, butuh waktu lama untuk tercapai.
Model berbasis tugas dan referensi mengharuskan pengguna menyelesaikan tugas, misalnya menjawab pertanyaan atau mengajak teman. Sistem ini berpotensi mengarah pada praktik yang kurang transparan.
Bahaya Skema Ponzi Digital dan Janji Palsu
Banyak pengguna merasa kecewa karena janji penghasilan besar tak kunjung terwujud. Waktu, kuota internet, dan energi yang telah diinvestasikan menjadi sia-sia.
Imbalan yang diberikan sangat kecil, hanya beberapa sen dolar per tugas. Beberapa aplikasi bahkan menerapkan skema Ponzi digital, di mana pendapatan pengguna lama berasal dari pengguna baru.
Herusadi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, membenarkan hal ini. Sistem ini mendorong pengguna untuk merekrut anggota baru demi keuntungan yang lebih besar.
Iklan aplikasi ini seringkali menggunakan narasi clickbait yang menjanjikan penghasilan fantastis dalam waktu singkat. Realitanya, pengguna justru terjebak dalam lingkaran setan.
Pengguna mungkin diharuskan terus bermain, menonton iklan, atau membayar langganan premium. Bahkan setelah mencapai ambang penarikan dana, pencairan seringkali terhambat.
Kerugian dan Cara Bijak dalam Mencari Penghasilan
Pengguna akhirnya menyadari bahwa mereka hanya menjadi alat monetisasi bagi pengembang aplikasi. Mereka kehilangan waktu, energi, dan kepercayaan.
Tidak semua aplikasi penghasil uang adalah penipuan. Namun, aplikasi yang sah biasanya membutuhkan keahlian khusus dan tidak menawarkan penghasilan instan.
Platform freelance, program afiliasi legal, dan marketplace digital merupakan contoh aplikasi yang berbayar, tetapi membutuhkan usaha dan keahlian.
Mencari penghasilan yang wajar tidak harus instan. Pendekatan realistis seperti menjual barang, menawarkan jasa, atau meningkatkan keahlian lebih bermanfaat jangka panjang.
Mengandalkan aplikasi penghasil uang instan justru mengikis semangat kerja keras. Hal ini perlu diwaspadai, terutama bagi anak muda.
Waspadai aplikasi yang menawarkan uang dengan cara terlalu mudah dan cepat. Selalu cermati ulasan pengguna lain, jangan tergiur janji manis, dan pahami model bisnis yang digunakan.
Sebagai pengguna digital, kita harus cerdas, kritis, dan bijak. Jangan sampai terjebak dalam skema digital yang manipulatif. Pilihlah cara yang etis dan berkelanjutan dalam mencari penghasilan.
