Wanita Iran, 47 Tahun di AS, Ditangkap Saat Berkebun

Wanita Iran, 47 Tahun di AS, Ditangkap Saat Berkebun
Sumber: Kompas.com

Seorang wanita Iran, Madonna “Donna” Kashanian (64), ditangkap oleh agen imigrasi AS saat berkebun di rumahnya di New Orleans, Minggu (22/6/2025). Penangkapan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Kashanian telah tinggal di Amerika Serikat selama 47 tahun.

Petugas berpakaian preman tanpa tanda pengenal langsung memborgol dan membawanya ke penjara di Mississippi, sebelum dipindahkan ke pusat pemrosesan imigrasi ICE di Basile, Louisiana.

Deportasi Setelah Hampir Lima Dekade di AS

Kashanian tiba di AS pada 1978 dengan visa pelajar. Ia kemudian mengajukan suaka, khawatir akan dianiaya karena hubungan ayahnya dengan Shah Iran yang kala itu didukung AS.

Meskipun permohonan suakanya ditolak, ia diberi penangguhan deportasi dengan syarat kepatuhan terhadap ketentuan imigrasi. Keluarga menegaskan Kashanian selalu mematuhi syarat tersebut dan tak memiliki catatan kriminal.

Penangkapan Bertepatan dengan Serangan Udara AS ke Iran

Penangkapan Kashanian terjadi beberapa jam setelah serangan udara AS ke Iran. Otoritas federal belum memberikan pernyataan resmi mengenai keterkaitan kedua peristiwa ini.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan 11 warga Iran ditangkap di berbagai negara bagian selama akhir pekan. Namun, belum ada penjelasan resmi mengenai motif penangkapan massal ini.

Profil Kashanian dan Kehidupan di New Orleans

Kashanian menetap di New Orleans sejak remaja dan aktif dalam komunitas lokal. Ia dikenal melalui resep masakan Persia di kanal YouTube-nya dan kegiatan di sekolah putrinya.

Ia hidup dalam kekhawatiran akan deportasi, terutama sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. Upaya menyesuaikan status imigrasinya melalui pernikahan dengan warga negara AS juga gagal karena pernikahan sebelumnya dianggap penipuan.

Dampak Penangkapan dan Tantangan Hukum

Penangkapan berlangsung cepat, kurang dari satu menit, menurut kesaksian seorang tetangga. Keluarga kehilangan kontak dengan Kashanian selama dua hari setelah penangkapan.

Suami dan putri Kashanian berupaya mendapatkan bantuan hukum, namun terbatasnya pengacara imigrasi di Louisiana menjadi tantangan tersendiri. Kasus ini menyoroti kesulitan akses keadilan bagi imigran.

Selain Kashanian, ICE juga menangkap dua mahasiswa Iran dari Louisiana State University (LSU) dan 84 orang lainnya (hanya dua yang memiliki catatan kriminal) dalam penggerebekan di arena pacuan kuda.

Lonjakan penangkapan individu tanpa catatan kriminal sebesar 807 persen sejak pelantikan kedua Donald Trump, menurut laporan *The Guardian*, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

ICE saat ini menahan sekitar 59.000 orang di berbagai fasilitas imigrasi di seluruh AS. Kasus Kashanian menjadi simbol dari kompleksitas dan dampak kebijakan imigrasi AS.

Kisah Kashanian menggambarkan realita getir imigran yang hidup dalam bayang-bayang deportasi, bahkan setelah berpuluh tahun berkontribusi pada masyarakat AS. Kasus ini membutuhkan perhatian serius terhadap keadilan dan hak asasi manusia bagi imigran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *