Gunung Rinjani di Lombok, Indonesia, dikenal akan keindahannya yang mempesona. Namun, di balik pesona alam yang memikat, terdapat risiko kecelakaan yang cukup tinggi. Dalam lima tahun terakhir, gunung ini telah mencatat setidaknya delapan insiden kecelakaan pendakian. Enam di antaranya berujung fatal.
Keindahan Gunung Rinjani memang tak dapat dipungkiri. Namun, tantangannya yang berat membuat gunung ini hanya cocok bagi pendaki berpengalaman.
Tragedi Terkini di Gunung Rinjani: Kematian Juliana Marins
Baru-baru ini, dunia berduka atas meninggalnya Juliana Marins, pendaki asal Brasil. Ia ditemukan tewas setelah jatuh ke jurang sedalam sekitar 650 meter pada Sabtu, 21 Juni 2025.
Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan di Gunung Rinjani. Pihak berwenang tengah menyelidiki penyebab jatuhnya Juliana.
Jejak Kecelakaan di Gunung Rinjani (2021-2025)
Sejak tahun 2021, beberapa kecelakaan pendakian telah terjadi di Gunung Rinjani. Berikut rangkumannya:
Desember 2021:
Seorang pendaki Indonesia berusia 26 tahun meninggal dunia setelah jatuh ke jurang sedalam 100 meter di jalur Senaru. Kondisi medan yang terjal menjadi penyebab utama kecelakaan ini.
Agustus 2022:
Seorang pendaki asal Portugal berusia 37 tahun tewas saat mencoba berswafoto di puncak Rinjani. Ia terjatuh dari tebing yang curam.
Juni 2024:
Seorang turis asal Swiss meninggal di jalur Bukit Anak Dara. Ia diketahui mendaki melalui jalur ilegal yang tidak aman.
September 2024:
Seorang pendaki asal Jakarta dilaporkan hilang dan ditemukan tewas setelah pencarian intensif. Jenazahnya ditemukan ratusan meter di bawah permukaan gunung.
Oktober 2024:
Seorang pendaki asal Irlandia jatuh ke jurang sedalam 200 meter. Ia beruntung selamat dengan hanya mengalami luka ringan.
Mei 2025:
Seorang pendaki asal Malaysia berusia 57 tahun meninggal dunia setelah jatuh ke jurang di jalur Banyu Urip. Insiden ini terjadi saat ia turun dari puncak.
Juni 2025:
Juliana Marins, pendaki asal Brasil, meninggal dunia setelah jatuh ke jurang sedalam 650 meter. Evakuasi jenazahnya membutuhkan waktu dan upaya yang cukup besar.
Faktor Risiko dan Rekomendasi Keselamatan
Gunung Rinjani memiliki medan yang menantang. Lereng yang curam, jalur sempit, dan tanah berpasir yang licin meningkatkan risiko kecelakaan.
Pendakian yang dimulai dini hari, hanya dengan penerangan seadanya, juga menambah tingkat bahaya. Astudestra Ajengrastri, asisten editor di BBC Asia Production Digital Hub, menjelaskan bahwa cuaca yang berubah-ubah dan kabut tebal seringkali menghambat upaya penyelamatan.
Pendakian di Gunung Rinjani tidak direkomendasikan bagi pendaki pemula. Meskipun banyak pendaki didampingi pemandu, keselamatan tetap menjadi tanggung jawab pribadi. Persiapan yang matang, perlengkapan yang memadai, dan pemahaman kondisi medan sangat krusial untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Gunung Rinjani sempat ditutup sementara karena musim hujan. Meskipun telah dibuka kembali, para pendaki tetap harus waspada dan mematuhi peraturan yang berlaku. Keselamatan harus selalu diutamakan. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi para pendaki untuk selalu berhati-hati dan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum memulai pendakian.
