Sebanyak 10 peserta retreat kepala daerah gelombang kedua tengah berada di bawah pengawasan ketat karena alasan kesehatan. Hal ini diungkapkan langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya.
Pengawasan ketat ini dilakukan menyusul hasil pemeriksaan kesehatan pada Sabtu, 21 Juni 2025. Pemeriksaan tersebut mengidentifikasi 10 peserta yang membutuhkan pengawasan khusus.
Pengawasan Ketat terhadap 10 Peserta Retreat
Dari 10 peserta yang memerlukan pengawasan ketat, lima di antaranya diberi pita kuning, sementara lima lainnya dengan kondisi kesehatan lebih serius diberi pita merah.
Wamendagri Bima Arya menjelaskan pengawasan yang diterapkan pada peserta dengan pita merah jauh lebih ketat dibandingkan dengan peserta pita kuning. Informasi detail mengenai identitas kepala daerah yang mendapat atensi khusus dirahasiakan.
Penyesuaian Kelas Belajar untuk Peserta dengan Kebutuhan Khusus
Demi kenyamanan dan keamanan peserta dengan kondisi kesehatan tertentu, panitia retreat melakukan penyesuaian lokasi kelas.
Awalnya, kelas direncanakan di gedung baru yang mengharuskan peserta menaiki tiga lantai tangga. Namun, demi mengakomodasi kebutuhan peserta, lokasi kelas dipindahkan ke tempat yang lebih mudah diakses.
Pihak panitia memastikan setiap peserta mendapatkan aksesibilitas yang memadai. Jika ada peserta yang merasa tidak mampu mengikuti kelas di lokasi yang telah ditentukan, lokasi kelas akan dipindahkan kembali ke tempat yang lebih sesuai.
Partisipasi Kepala Daerah dalam Retreat Gelombang Kedua
Retreat gelombang kedua ini diikuti oleh 86 kepala daerah dari total 93 kepala daerah yang terdaftar.
Enam dari tujuh kepala daerah yang tidak hadir mengajukan permohonan karena alasan kesehatan. Satu kepala daerah lainnya, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo, berhalangan hadir karena duka cita atas meninggalnya ibunya.
Ke-86 kepala daerah yang hadir akan mengikuti program retreat selama lima hari, dari tanggal 22 hingga 26 Juni 2025. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman mereka mengenai tugas dan fungsi sebagai kepala daerah.
Beberapa kepala daerah mengaku terkejut dengan beberapa aturan selama retreat, termasuk durasi makan siang yang dibatasi hanya selama dua lagu. Materi mengenai tupoksi kepala daerah juga diberikan di tengah program, mengambil pelajaran dari kasus Lucky Hakim.
Secara keseluruhan, retreat gelombang kedua ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kapasitas kepala daerah. Penyesuaian yang dilakukan terhadap kondisi kesehatan peserta juga menunjukkan kepedulian dan prioritas terhadap kesejahteraan para peserta. Semoga langkah ini dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan daerah di Indonesia.





