Israel Menang Perang Bayangan, Ancaman Nuklir Iran Redup?

Israel Menang Perang Bayangan, Ancaman Nuklir Iran Redup?
Sumber: Poskota.co.id

Konflik terbaru antara Israel dan Iran telah berakhir, meninggalkan beragam interpretasi mengenai hasil akhir pertempuran. Monique Rijkers, seorang aktivis pro-Israel, memberikan pandangannya mengenai keberhasilan militer Israel dalam konflik tersebut. Pernyataan-pernyataan Rijkers, yang disampaikan melalui kanal YouTube Indonesia Lawyers Club, memicu diskusi luas mengenai dampak konflik dan peranan program nuklir Iran.

Pernyataan Rijkers menuai kontroversi, khususnya mengenai klaim keberhasilan militer Israel. Pandangan ini perlu dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.

Keberhasilan Militer Israel Menurut Aktivis Pro-Israel

Monique Rijkers, menilai operasi militer Israel sangat efisien dan berhasil mencapai tujuannya. Ia menekankan serangan presisi Israel yang hanya menyasar target militer strategis Iran, berbeda dengan serangan balasan Iran yang dianggapnya membabi buta.

Rijkers mengklaim Israel berhasil menguasai sebagian besar wilayah Iran dalam waktu singkat, yaitu 25 dari 31 provinsi dalam kurun waktu 12 hari. Klaim ini cukup berani dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut dari sumber independen.

Ia juga menyoroti kemampuan angkatan udara Israel yang disebutnya mampu terbang bolak-balik antara Teheran dan Yerusalem tanpa tertembak. Keberhasilan ini, menurut Rijkers, merupakan bukti keunggulan teknologi militer Israel di era modern.

Ancaman Program Nuklir Iran dan Posisi Indonesia

Rijkers turut menyoroti bahaya program nuklir Iran. Ia mengutip laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Juni 2025 yang menyebutkan Iran telah memiliki 408 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen – cukup untuk membuat beberapa bom atom.

Ia mengkritik negara-negara yang mendukung program nuklir Iran, termasuk menyinggung posisi Indonesia yang selama ini menentang senjata nuklir. Rijkers mempertanyakan konsistensi Indonesia dalam hal ini mengingat potensi ancaman dari senjata nuklir Iran bagi kawasan regional.

Indonesia, sebagai negara yang menandatangani traktat pelarangan senjata nuklir, dihadapkan pada dilema kebijakan luar negeri mengingat ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran.

Perubahan Ideologi, Bukan Pergantian Rezim, sebagai Solusi

Rijkers menegaskan bahwa serangan Israel bukanlah upaya untuk menggulingkan rezim Iran. Ia menekankan perubahan rezim merupakan urusan internal rakyat Iran.

Namun, Rijkers menyarankan perubahan ideologi di Iran, khususnya terkait propaganda anti-Israel yang telah berlangsung sejak revolusi 1979. Ia percaya propaganda ini telah memicu kebencian global terhadap Israel.

Rijkers juga menyayangkan gencatan senjata yang dicapai tanpa komitmen konkret dari Iran, merujuk pada contoh perjanjian serupa di Yaman yang dianggapnya gagal meredam agresi. Ia berharap perdamaian dapat tercapai jika Iran mengubah ideologi anti-Israelnya.

Israel, menurut Rijkers, selalu terbuka untuk perdamaian dengan syarat tidak ada ancaman eksistensial. Ia mengingatkan hubungan damai Israel-Iran sebelum 1979 sebagai bukti potensi kerjasama kedua negara jika Iran mengubah pendekatannya.

Pernyataan Rijkers memicu perdebatan yang kompleks mengenai konflik Israel-Iran, mencakup aspek militer, politik, dan ideologi. Perlu kajian lebih mendalam dan analisa dari berbagai perspektif untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang konflik ini serta implikasinya terhadap stabilitas regional.

Pos terkait