Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Iran dan Israel pada Senin, 23 Juni 2025. Pengumuman yang disampaikan melalui media sosial ini menandai babak baru dalam konflik Timur Tengah yang menegangkan. Namun, banyak pihak meragukan efektivitas dan keberlanjutan kesepakatan ini mengingat sejarah konflik yang panjang dan kompleks di kawasan tersebut.
Pengumuman gencatan senjata terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal terukur ke pangkalan militer AS di Qatar. Serangan ini sengaja dirancang agar mudah dicegat oleh pertahanan AS. Kejutan taktik ini justru menjadi titik balik konflik.
Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Tiga Pihak
Trump memilih untuk tidak membalas serangan Iran. Sebaliknya, ia langsung mendesak Israel untuk menghentikan rencana serangan balasan. Keputusan ini dianggap sebagai manuver cepat untuk menghindari eskalasi konflik dan menghindari kritik atas janjinya untuk menghindari keterlibatan militer AS di luar negeri.
Will Todman, peneliti senior di CSIS, menilai keputusan Trump sebagai faktor utama tercapainya gencatan senjata. Ia berpendapat bahwa Trump tidak ingin melihat perang baru pecah di bawah kepemimpinannya. Hal ini mempengaruhi perhitungan baik Israel maupun Iran.
Israel, Iran, dan bahkan Trump sendiri mengklaim kemenangan setelah konflik 12 hari yang intens. Puncak eskalasi terjadi saat militer AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025.
Meskipun AS mengklaim telah “menghancurkan” program nuklir Iran, laporan rahasia dari CNN dan The New York Times menyebutkan bahwa serangan tersebut tidak merusak bagian inti dari tiga lokasi nuklir Iran. Iran sendiri tengah mencari jalan keluar dari konflik setelah mengalami serangan terburuk sejak perang dengan Irak.
Trump juga memberi sinyal akan menawarkan insentif kepada Iran, misalnya dengan mengurangi tekanan pada China agar tetap membeli minyak Iran. Militer Israel menghadapi tekanan besar karena selain operasi di Gaza, Suriah, dan Lebanon, serangan Iran menyebabkan rangkaian serangan udara paling mematikan dalam beberapa dekade.
Pernyataan pujian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap intervensi Trump kemudian diimbangi dengan peringatan Trump pada hari Selasa. Hal ini menunjukkan batasan dukungan AS terhadap Israel.
Peran Diplomasi Diam-Diam Negara Teluk
Meskipun Trump tampil sebagai aktor utama perdamaian, analis menilai gencatan senjata lebih banyak dipengaruhi oleh diplomasi negara-negara Teluk. Brian Katulis dari Middle East Institute menekankan peran negara-negara seperti Qatar yang memiliki hubungan luas di kawasan tersebut.
Qatar dan negara-negara Teluk lainnya menjalankan diplomasi diam-diam untuk meredakan ketegangan. Katulis menambahkan bahwa pendekatan Trump yang menggabungkan operasi militer taktis dengan komunikasi strategis justru membingungkan para pengamat dan pembuat kebijakan global.
Ketidakjelasan strategi Trump membuat sulit untuk menilai secara pasti apa yang ingin dicapai oleh pemerintahannya. Hal ini juga menyulitkan proses negosiasi perdamaian.
Dampak Politik Domestik di AS
Gencatan senjata ini memiliki pengaruh signifikan terhadap politik domestik AS. Jonathan Panikoff dari Atlantic Council berpendapat bahwa operasi militer AS yang berkepanjangan berpotensi memecah dukungan terhadap Trump, bahkan dari basis pendukungnya sendiri.
Namun, ia memperkirakan sebagian besar pendukung Trump dari kelompok konservatif dan Partai Republik akan tetap solid. Meskipun sebagian besar tokoh Partai Republik mendukung serangan terhadap Iran, kritik juga datang dari beberapa kalangan, termasuk Partai Demokrat.
Annelle Sheline dari Quincy Institute for Responsible Statecraft mengkritik tindakan Israel yang tetap membombardir Lebanon dan Gaza meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Ia menekankan pentingnya Trump untuk konsisten menegakkan gencatan senjata.
Sheline juga menyorot kemampuan Trump untuk mengendalikan Israel. Namun, ia menekankan bahwa Trump harus menunjukkan konsistensi yang sama untuk menegakkan gencatan senjata di Gaza.
Gencatan senjata Iran-Israel yang dimediasi oleh Trump, meskipun diklaim sebagai kemenangan oleh berbagai pihak, masih menyimpan banyak pertanyaan. Peran diplomasi diam-diam negara Teluk dan ketidakpastian mengenai keberlanjutan gencatan senjata membuat masa depan kawasan Timur Tengah masih belum pasti. Pengaruh politik domestik di AS juga akan terus menjadi faktor penting dalam perkembangan situasi ini.





