Serangan udara Israel ke Teheran memicu reaksi keras dari Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran. Ia bukannya mengecam serangan tersebut, melainkan justru menyerukan penggulingan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei. Sikap Pahlavi ini memicu kontroversi dan menimbulkan pertanyaan tentang motif sebenarnya di balik dukungannya terhadap Israel.
Pahlavi bahkan menolak diplomasi nuklir dengan Iran, mendorong pendekatan garis keras yang mendukung “alternatif terhadap rezim”. Pernyataan-pernyataan kontroversial ini telah menarik perhatian internasional dan memicu debat sengit mengenai peran Pahlavi dalam politik Iran kontemporer.
Dukungan Reza Pahlavi terhadap Israel: Strategi Politik atau Keyakinan Ideologi?
Dukungan Reza Pahlavi pada Israel dilihat banyak pihak sebagai bagian dari strategi untuk menggulingkan pemerintahan Khamenei. Ia secara terang-terangan mengkritik rezim Iran sebagai “penguasa penindas”.
Dalam konferensi pers di Paris, Pahlavi mendesak komunitas internasional untuk tidak mendukung rezim Iran. Ia berjanji akan memberikan Khamenei pengadilan yang adil jika berhasil berkuasa.
Pahlavi meyakini hanya Iran yang demokratis yang dapat menghentikan ambisi nuklirnya. Hal ini sejalan dengan kepentingan Israel dan negara-negara Barat.
Bagi Pahlavi, Israel bukan hanya sekutu politik, tetapi juga simbol modernitas, demokrasi, dan sekularisme yang ingin diterapkannya di Iran. Pandangan ini membentuk landasan dukungannya terhadap negara tersebut.
Hubungan Dekat Pahlavi dan Israel: Kunjungan Resmi dan Simbolisme Politik
Kunjungan Pahlavi dan istrinya ke Israel pada April 2023 menandai babak baru dalam hubungan keduanya. Mereka disambut hangat oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog.
Kunjungan tersebut dianggap sebagai pengakuan Israel terhadap Pahlavi sebagai pemimpin utama oposisi Iran. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dan tindakan simbolis dari keluarga Pahlavi.
Pahlavi mengunjungi Tembok Ratapan, namun menghindari Masjid Al-Aqsa. Istri Pahlavi, Yasmine, mengunggah foto tentara Israel perempuan dengan slogan “Women, Life, Freedom”.
Tindakan ini menuai kritik dari aktivis Iran yang menilai slogan tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung pendirian Israel atas Yerusalem. Pahlavi juga bertemu dengan tokoh-tokoh kontroversial yang dikenal anti-Palestina dan pro-sanksi terhadap Iran.
Reaksi Domestik: Kritik dan Penolakan terhadap Dukungan Pahlavi pada Israel
Di dalam negeri, posisi Pahlavi menuai kecaman, bahkan dari kalangan oposisi Iran. Kritikus menilai pendekatannya sebagai upaya rehabilitasi citra monarki yang telah ditolak rakyat Iran.
Dukungan terbuka terhadap Israel—yang secara historis dianggap sebagai musuh—membuat Pahlavi dituduh sebagai “boneka asing”. Kedekatannya dengan kelompok pelobi di Washington yang mendukung sanksi keras dan serangan militer terhadap Iran semakin memperkuat tudingan ini.
Beberapa penasihat Pahlavi diketahui memiliki pandangan anti-Palestina dan pro-aksi militer terhadap Iran. Hal ini semakin mengasingkan Pahlavi dari sebagian besar gerakan oposisi Iran.
Banyak aktivis hak asasi manusia Iran menilai dukungan Pahlavi terhadap Israel sebagai “beban”, bukan aset. Impian Israel untuk melihat Pahlavi kembali memimpin Iran dianggap sebagai fantasi yang jauh dari kenyataan. Rakyat Iran telah menolak monarki pada tahun 1979, dan banyak yang tetap menolak kembalinya bentuk kekuasaan tersebut.
Bahkan selama protes Mahsa Amini tahun 2022, banyak demonstran meneriakkan slogan “Matilah penindas, baik Shah maupun Pemimpin (Khamenei)!”. Ini menunjukkan bahwa Pahlavi tidak otomatis mendapat tempat di hati rakyat Iran.
Sikap Reza Pahlavi yang pro-Israel menimbulkan pertanyaan kompleks mengenai strategi politik, ideologi, dan realitas politik Iran. Dukungannya terhadap Israel, meskipun mungkin efektif dalam menarik simpati internasional tertentu, justru bisa menjadi penghalang bagi upaya untuk membangun dukungan luas di dalam negeri dan memperumit jalan menuju transisi politik yang damai di Iran.





