Serangan Amerika Serikat (AS) ke tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu, 22 Juni 2025, telah memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik Iran-Israel. Banyak yang cemas potensi konflik ini akan berujung pada Perang Dunia III. Namun, para ahli geopolitik dan hubungan internasional meyakinkan publik untuk tidak panik. Mereka menilai situasi saat ini belum menunjukkan indikasi menuju perang skala global.
Meskipun AS telah terlibat secara langsung, eskalasi konflik belum mencapai titik yang mengarah pada perang besar-besaran. Upaya diplomasi dari berbagai negara, termasuk Uni Eropa, Inggris, Jepang, Perancis, Qatar, dan Arab Saudi, tengah gencar dilakukan untuk mencegah konflik meluas. Iran sendiri telah melakukan serangan balasan ke Israel.
Serangan AS: Apakah Perang Dunia III Akan Terjadi?
Dua pakar, Dina Sulaeman dari Universitas Padjajaran dan Dian Wirengjurit, sama-sama meredam kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III. Dian Wirengjurit, mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran (2012-2016), menganggap skenario perang dunia sangat tidak mungkin.
Upaya diplomasi oleh negara-negara di kawasan, termasuk Qatar, Oman, Mesir, dan Uni Emirat Arab, bertujuan mencegah meluasnya konflik. Negara-negara tersebut tidak ingin wilayah mereka menjadi medan perang.
Geopolitik, menurut Dian, bukanlah hal yang sederhana. Krisis di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lain, tetapi tidak selalu berujung pada perang besar-besaran.
Masyarakat diimbau untuk tidak terlalu khawatir. Dunia tidak akan tinggal diam jika konflik terus meningkat.
Indikasi Konflik Menuju Perang Dunia III
Perang dunia, menurut Dina Sulaeman, terjadi ketika konflik melibatkan aktor dari banyak negara di berbagai kawasan. Keterlibatan AS saat ini, yang dinilai sebagai serangan terbatas, belum mengindikasikan hal tersebut.
Serangan besar-besaran dari AS, dan keterlibatan aktif Rusia dan China (sekutu Iran), baru akan menjadi indikasi serius menuju perang dunia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga dapat memicu intervensi negara-negara besar, karena akan mengganggu kepentingan ekonomi Rusia dan China.
Kebijakan luar negeri AS yang memprioritaskan keamanan Israel juga menjadi faktor penting dalam konflik ini.
Dampak Konflik Iran-Israel bagi Indonesia dan Peran Indonesia
Indonesia akan merasakan dampak signifikan jika Selat Hormuz ditutup. Hal ini akan mengganggu pasokan minyak dunia, mengakibatkan kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, akan terdampak secara ekonomi.
Indonesia, menurut para ahli, memiliki keterbatasan pengaruh untuk menjadi mediator perdamaian dalam konflik ini. Upaya diplomasi yang dilakukan Indonesia akan lebih efektif jika Indonesia terlebih dahulu memperkuat perekonomian dan stabilitas domestik.
Meskipun demikian, Indonesia tetap dapat berkontribusi. Keikutsertaan dalam proses perdamaian, meski hanya sebagai suara tambahan, tetap bernilai. Indonesia juga bisa menerapkan tekanan ekonomi, misalnya dengan menunda kerja sama dengan perusahaan yang memasok logistik militer Israel. Namun, hal ini membutuhkan keberanian dan pertimbangan matang terhadap dampaknya.
Indonesia, dengan prinsip bebas aktif dan non-blok, tetap berkomitmen pada perdamaian dunia dan melawan penjajahan, sesuai amanat UUD 1945. Oleh karena itu, Indonesia perlu mempertimbangkan dukungan kepada pihak-pihak yang mengalami penjajahan.
Konflik Iran-Israel saat ini memang menimbulkan kekhawatiran, namun kewaspadaan dan langkah-langkah strategis yang terukur akan lebih efektif daripada kepanikan yang berlebihan. Situasi ini membutuhkan pemantauan dan respons yang cermat dari semua pihak, termasuk Indonesia.





