Program Makan Begizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan setelah beredarnya foto paket MBG berupa bahan mentah di Tangerang Selatan (Tangsel). Foto yang viral di media sosial menunjukkan paket berisi bahan makanan mentah seperti beras, ikan asin, telur puyuh, kacang tanah, pisang, dan jeruk. Hal ini memicu pertanyaan mengenai kebijakan distribusi MBG, khususnya selama masa liburan sekolah.
Badan Gizi Nasional (BGN) telah memberikan klarifikasi terkait hal ini. Mereka menegaskan belum ada kebijakan resmi yang mengatur pembagian MBG dalam bentuk bahan mentah kepada siswa selama liburan sekolah.
Klarifikasi Badan Gizi Nasional (BGN)
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa belum ada kebijakan yang dikeluarkan terkait pembagian MBG dalam bentuk bahan mentah. Prinsip pemerataan gizi, efektivitas penyaluran, dan keberlanjutan manfaat menjadi acuan utama dalam setiap kebijakan BGN.
Saat ini, BGN tengah menyusun petunjuk teknis (juknis) untuk pelaksanaan MBG selama libur sekolah. Juknis ini akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk pola kehadiran siswa dan keberlanjutan pemberian asupan gizi yang efektif.
BGN telah meminta Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah untuk melakukan survei kehadiran siswa selama liburan. Hasil survei ini akan menjadi dasar dalam menentukan strategi penyaluran MBG.
Penyesuaian Penyaluran MBG Selama Libur Sekolah
Jika siswa masih dapat hadir ke sekolah, maka mereka akan menerima makanan segar dan makanan tahan lama seperti telur, buah, dan susu. Namun, jika mayoritas siswa tidak dapat hadir, BGN akan menyesuaikan penyaluran program.
Prioritas akan diberikan kepada kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Hal ini bertujuan agar manfaat gizi tetap tersalurkan secara optimal kepada mereka yang paling membutuhkan.
Penjelasan dari SPPG di Tangsel
Sementara itu, SPPG Yayasan Mualaf Indonesia Timur (Yasmit) Ciputat Timur memberikan penjelasan terkait pembagian MBG bahan mentah di wilayahnya. Mereka menyatakan telah membagikan paket MBG bahan mentah kepada 4.075 siswa di 18 sekolah.
Pihak SPPG Yasmit Ciputat Timur menjelaskan alasan pembagian MBG dalam bentuk bahan mentah. Pemberian bahan mentah dipilih karena siswa sedang menjalani liburan sekolah, class meeting, atau ujian. Paket MBG tetap harus diberikan meskipun kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung seperti biasa.
SPPG menjelaskan bahwa beras diberikan dalam bentuk mentah agar dapat dibawa pulang dan disimpan lebih lama. Mereka juga menambahkan bahwa arahan dari pusat adalah untuk tetap memberikan paket makanan dengan kreativitas masing-masing SPPG dan ahli gizi, seperti yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Perbedaan arahan antara BGN dan pelaksanaan di lapangan ini menjadi poin penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan efisiensi program MBG. Ke depan, penting bagi BGN dan SPPG untuk berkoordinasi lebih baik dalam menetapkan kebijakan dan pelaksanaan program MBG, terutama selama masa liburan sekolah, demi menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi anak-anak Indonesia. Transparansi informasi juga sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman dan menjaga kepercayaan publik.





